mr. big

my man will turn 30 (by next 4 months) and he’s getting fat. Big tum and waist so his suit doesn’t fit anymore. he officially becomes “my mr.big”

as if I were carrie bradshaw ;)

Posted in Daily Life | Leave a comment

arti nama saya

Kania Prita Anggriany

Ternyata nama pemberian ibu + kakek saya ini sangat hindu, berasal dari mitos hindi dan mahabharata.

Kania -> form of Kanya; a highest goddess in Hindi, a young lady; a virgin goddess (hmm)

Prita -> artinya “perempuan” atau yang terhormat

Anggriany -> asal kata dari anggraini (berhubung sama kayak bude, makanya agak dimainin hurufnya). dewi anggraini adalah bagian dari kisah mahabharata. berikut cerita singkatnya

 Dalam Mahabharata, Anggraini adalah nama istri Prabu Ekalawya alias Palgunadi, Raja Paranggelung. Ia berwajah cantik karena merupakan seorang puteri apsari (bidadari) Warsiki. Dewi Anggraini mempunyai sifat setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati dan sangat berbakti terhadap suami.

konon katanya, arjuna pun terpikat dgn kecantikan dewi anggraini.
Ketika terjadi permusuhan antara Prabu Ekalawya dengan Arjuna akibat dari perbuatan Arjuna yang menggangu dirinya, Prabu Ekalawya mati dibunuh Resi Drona dengan cara memotong ibu jari tangan kanannya yang memakai cincin sakti Mustika Ampal.

Dewi Anggraini menunjukan kesetiaannya sebagai istri sejati. Ia melakukan bela pati, bunuh diri untuk kehormatan suami dan dirinya sendiri. Dewi Anggraini mati sebagai lambang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya. Walaupun menghadapi godaan yang berwujud keindahan dan kelebihan orang lain, namun Dewi Anggraini tetap teguh cinta kesetianya kepada suaminya. Sebagai wujud cintanya Arjuna kepada Dewi Angraini, maka Raden Arjuna kemudian memakai nama Palgunadi sebagai nama lainnya atau disebut dasanama.

Posted in Daily Life | Leave a comment

this is how it works #2

Marrying a woman means you marry her FAMILY, her WORLD, her BODY, her MIND, her FATE… laugh with them, cry with them, be part of them unseparatedly. Because she’s devoted to you at the moment she say “YES”

Posted in Uncategorized | Leave a comment

this is how it works..

you’ll never appreciate anything until its gone

you’ll never know how much you get until it stops coming over you

life is merely like black and white color, happens one after another

sometimes you got the joy, and the time after you’re pushed into pain

it wasn’t you who determine the destiny, but destiny itself will find you

but it wasn’t a sin that people always search for happines, wealth, prosperity

good life and good health

 

 

this is how life works

you will gain so many things as you keep achieving what comes to you as “lessons”

great teacher maybe the fate itself

the term “ikhtiar” is proposing what you want with the hardest effort you can do

and let destiny answer it, whether He agree or not with your proposal

instead waiting the fate to come, people propose it again and again

this is how it works

 

so we gotta be strong, push ourself to the limit

life won’t wait

and we only live once

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sajadah Panjang…

pernah gak sih berpikir hidup ini sebenernya ngapain ya? buat apa? apa sekedar menghabiskan waktu menunggu mati?

sebuah lirik sederhana dari bimbo membuat saya meneteskan air mata tadi malam.

ada sajadah panjang terbentang

dari tepi buaian sampai ke tepi kuburan hamba

kuburan hamba bila mati

lirik ini mengingatkan kembali akan apa yang saya coba pahami dua tahun belakangan ini. yang akhir-akhir ini sepertinya terlupakan. Untuk apa sih hidup saya?

Agama saya mengajarkan bahwa manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah. Untuk memakmurkan muka bumi. Untuk beribadah pada Allah. Seperti perumpamaan Taufik Ismail, hidup ini seperti sebuah sajadah yang membentang sejak manusia dilahirkan sampai akhirnya ia kembali pada Sang Khalik. Sajadah untuk sujud dan beribadah.

Sebenar-benarnya kita (menurut ajaran agama saya) diperintahkan untuk menuntut ilmu dan membangun kehidupan dengan mencari rizki yang halal. Namun sajadah yang menjadi alas akan selalu mengingatkan manusia pada hakikatnya sebagai khalifah: beribadah pada Allah.

begitu terdengar suara azan

kembali tersungkur hamba

 

bicara soal konsep khalifah, seseorang pernah berkata pada saya bahwa menjadi khalifah berarti memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dirinya. Allah sudah memberikan “sesuatu yang lebih” padanya, dan sungguh dosa jika ia sia-siakan. Dan saya melihatnya menghabiskan malam-malam demi memaksimalkan potensi dirinya, larut dalam “exercise2″ yang mungkin suatu saat nanti akan menjadikannya besar. Terkadang hal-hal seperti itu berdampak buruk pada kesehatannya. Pengorbanan, katanya.

Ia memilih jalan hidupnya dengan melawan arus, tidak seperti orang-orang kebanyakan. Sederhana, menurutnya hidup ini tidaklah sekedar menghabiskan waktu dalam sistem yang ada sambil menunggu mati. Life is worth than that. Dan sesungguhnya apa yang ia lakukan justru mengikuti arus: bahwa apa yang ia jalani memang sudah diarahkan demikian. Ia hanya belajar memahami kemana hidup membawanya, bukan bersembunyi dibalik sistem untuk mencari zona nyaman.

Saya sangat menghargai kerja kerasnya, pemikiran dan misinya untuk menjalankan konsep ke-khalifan itu. Saya hanya tidak mau ( saya tulis demikian krn tidak ingin berspekulasi) bahwa apa yang seharusnya menjadi “sujudnya”, ternyata malah menjauhkan ia dari-Nya. Karena semua harus sejalan, seperti menuntut ilmu karena Allah dan di sisi lain tetap taat pada ajaran-Nya, bukannya malah menunda melaksanakan perintah-Nya karena terlalu sibuk menuntut ilmu.

Kembali kepada perumpamaan awal, jika hidup ini adalah sebuah sajadah panjang, mengapa kita mengotorinya dengan hal-hal yang dilarang Allah? Padahal kita tau setiap saat kita berdiri dan (seharusnya) bersujud di sajadahNya! Padahal kita tau apa tugas kita di dunia. Dan pastinya bukan sekali dua kali kita mendengar hal-hal seperti ini dibicarakan oleh ustadz, guru agama, khatib, atau lainnya.

Manusia memang tidak luput dari kesalahan. Namun mengapa ya semua tidak bisa berjalan dengan sederhana: Kalau kita tau suatu hal itu salah, kenapa tidak lantas ditinggalkan? Selalu ada pembenaran dan alasan-alasan yang akhirnya menjadi “excuses” bagi hal tersebut. Manusia memang diberi akal untuk menilai mana yang benar mana yang salah, namun manusia juga diberi nafsu yang ingin membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Saya tidak bermaksud sok suci. Toh saya bukan manusia suci. Saya berjilbab pun bukan karena pernyataan bahwa saya telah mencapai tingkat iman yang lebih tinggi. Tidak. Saya memahami jilbab (atau lebih tepatnya hijab) sebagai perintah Allah yang sama wajibnya seperti shalat, bukan sebagai jenjang ketakwaan yang dicapai setelah membuktikan keimanan atau keislaman.

Saya ini dosanya banyak. Makanya saya berusaha memahami bahwa hidup adalah untaian sajadah panjang: setiap saat harus mengingat Allah, apapun yang dilakukan diniatkan hanya pada-Nya, dan selalu berserah atas segala sesuatu. Namun memang menjadi orang baik itu tidak semudah menimbun dosa dan kesalahan. Setidaknya begitulah untuk saya…

Maka lirik “sajadah panjang” ciptaan Taufik Ismail menjadi sangat menyentuh. Setidaknya mengingatkan bahwa apapun yang dilakukan, haruslah terus ingat hakikat hidup sebenarnya. Harus terus diniatkan dengan ikhlas hanya karena Allah. Mungkin dengan begitu, apapun yang terjadi, langkah kita bisa terasa ringan. Insyaallah…

Posted in Daily Life | Tagged | Leave a comment