pernah gak sih berpikir hidup ini sebenernya ngapain ya? buat apa? apa sekedar menghabiskan waktu menunggu mati?
sebuah lirik sederhana dari bimbo membuat saya meneteskan air mata tadi malam.
ada sajadah panjang terbentang
dari tepi buaian sampai ke tepi kuburan hamba
kuburan hamba bila mati
lirik ini mengingatkan kembali akan apa yang saya coba pahami dua tahun belakangan ini. yang akhir-akhir ini sepertinya terlupakan. Untuk apa sih hidup saya?
Agama saya mengajarkan bahwa manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah. Untuk memakmurkan muka bumi. Untuk beribadah pada Allah. Seperti perumpamaan Taufik Ismail, hidup ini seperti sebuah sajadah yang membentang sejak manusia dilahirkan sampai akhirnya ia kembali pada Sang Khalik. Sajadah untuk sujud dan beribadah.
Sebenar-benarnya kita (menurut ajaran agama saya) diperintahkan untuk menuntut ilmu dan membangun kehidupan dengan mencari rizki yang halal. Namun sajadah yang menjadi alas akan selalu mengingatkan manusia pada hakikatnya sebagai khalifah: beribadah pada Allah.
begitu terdengar suara azan
kembali tersungkur hamba
bicara soal konsep khalifah, seseorang pernah berkata pada saya bahwa menjadi khalifah berarti memanfaatkan semaksimal mungkin potensi dirinya. Allah sudah memberikan “sesuatu yang lebih” padanya, dan sungguh dosa jika ia sia-siakan. Dan saya melihatnya menghabiskan malam-malam demi memaksimalkan potensi dirinya, larut dalam “exercise2″ yang mungkin suatu saat nanti akan menjadikannya besar. Terkadang hal-hal seperti itu berdampak buruk pada kesehatannya. Pengorbanan, katanya.
Ia memilih jalan hidupnya dengan melawan arus, tidak seperti orang-orang kebanyakan. Sederhana, menurutnya hidup ini tidaklah sekedar menghabiskan waktu dalam sistem yang ada sambil menunggu mati. Life is worth than that. Dan sesungguhnya apa yang ia lakukan justru mengikuti arus: bahwa apa yang ia jalani memang sudah diarahkan demikian. Ia hanya belajar memahami kemana hidup membawanya, bukan bersembunyi dibalik sistem untuk mencari zona nyaman.
Saya sangat menghargai kerja kerasnya, pemikiran dan misinya untuk menjalankan konsep ke-khalifan itu. Saya hanya tidak mau ( saya tulis demikian krn tidak ingin berspekulasi) bahwa apa yang seharusnya menjadi “sujudnya”, ternyata malah menjauhkan ia dari-Nya. Karena semua harus sejalan, seperti menuntut ilmu karena Allah dan di sisi lain tetap taat pada ajaran-Nya, bukannya malah menunda melaksanakan perintah-Nya karena terlalu sibuk menuntut ilmu.
Kembali kepada perumpamaan awal, jika hidup ini adalah sebuah sajadah panjang, mengapa kita mengotorinya dengan hal-hal yang dilarang Allah? Padahal kita tau setiap saat kita berdiri dan (seharusnya) bersujud di sajadahNya! Padahal kita tau apa tugas kita di dunia. Dan pastinya bukan sekali dua kali kita mendengar hal-hal seperti ini dibicarakan oleh ustadz, guru agama, khatib, atau lainnya.
Manusia memang tidak luput dari kesalahan. Namun mengapa ya semua tidak bisa berjalan dengan sederhana: Kalau kita tau suatu hal itu salah, kenapa tidak lantas ditinggalkan? Selalu ada pembenaran dan alasan-alasan yang akhirnya menjadi “excuses” bagi hal tersebut. Manusia memang diberi akal untuk menilai mana yang benar mana yang salah, namun manusia juga diberi nafsu yang ingin membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.
Saya tidak bermaksud sok suci. Toh saya bukan manusia suci. Saya berjilbab pun bukan karena pernyataan bahwa saya telah mencapai tingkat iman yang lebih tinggi. Tidak. Saya memahami jilbab (atau lebih tepatnya hijab) sebagai perintah Allah yang sama wajibnya seperti shalat, bukan sebagai jenjang ketakwaan yang dicapai setelah membuktikan keimanan atau keislaman.
Saya ini dosanya banyak. Makanya saya berusaha memahami bahwa hidup adalah untaian sajadah panjang: setiap saat harus mengingat Allah, apapun yang dilakukan diniatkan hanya pada-Nya, dan selalu berserah atas segala sesuatu. Namun memang menjadi orang baik itu tidak semudah menimbun dosa dan kesalahan. Setidaknya begitulah untuk saya…
Maka lirik “sajadah panjang” ciptaan Taufik Ismail menjadi sangat menyentuh. Setidaknya mengingatkan bahwa apapun yang dilakukan, haruslah terus ingat hakikat hidup sebenarnya. Harus terus diniatkan dengan ikhlas hanya karena Allah. Mungkin dengan begitu, apapun yang terjadi, langkah kita bisa terasa ringan. Insyaallah…