arti nama saya


Kania Prita Anggriany

Ternyata nama pemberian ibu + kakek saya ini sangat hindu, berasal dari mitos hindi dan mahabharata.

Kania -> form of Kanya; a highest goddess in Hindi, a young lady; a virgin goddess (hmm)

Prita -> artinya “perempuan” atau yang terhormat

Anggriany -> asal kata dari anggraini (berhubung sama kayak bude, makanya agak dimainin hurufnya). dewi anggraini adalah bagian dari kisah mahabharata. berikut cerita singkatnya

 Dalam Mahabharata, Anggraini adalah nama istri Prabu Ekalawya alias Palgunadi, Raja Paranggelung. Ia berwajah cantik karena merupakan seorang puteri apsari (bidadari) Warsiki. Dewi Anggraini mempunyai sifat setia, murah hati, baik budi, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati dan sangat berbakti terhadap suami.

konon katanya, arjuna pun terpikat dgn kecantikan dewi anggraini.
Ketika terjadi permusuhan antara Prabu Ekalawya dengan Arjuna akibat dari perbuatan Arjuna yang menggangu dirinya, Prabu Ekalawya mati dibunuh Resi Drona dengan cara memotong ibu jari tangan kanannya yang memakai cincin sakti Mustika Ampal.

Dewi Anggraini menunjukan kesetiaannya sebagai istri sejati. Ia melakukan bela pati, bunuh diri untuk kehormatan suami dan dirinya sendiri. Dewi Anggraini mati sebagai lambang kesetiaan seorang istri terhadap suaminya. Walaupun menghadapi godaan yang berwujud keindahan dan kelebihan orang lain, namun Dewi Anggraini tetap teguh cinta kesetianya kepada suaminya. Sebagai wujud cintanya Arjuna kepada Dewi Angraini, maka Raden Arjuna kemudian memakai nama Palgunadi sebagai nama lainnya atau disebut dasanama.

Advertisements
Posted in Daily Life | Leave a comment

this is how it works..


you’ll never appreciate anything until its gone

you’ll never know how much you get until it stops coming over you

life is merely like black and white color, happens one after another

sometimes you got the joy, and the time after you’re pushed into pain

it wasn’t you who determine the destiny, but destiny itself will find you

but it wasn’t a sin that people always search for happines, wealth, prosperity

good life and good health

 

 

this is how life works

you will gain so many things as you keep achieving what comes to you as “lessons”

great teacher maybe the fate itself

the term “ikhtiar” is proposing what you want with the hardest effort you can do

and let destiny answer it, whether He agree or not with your proposal

instead waiting the fate to come, people propose it again and again

this is how it works

 

so we gotta be strong, push ourself to the limit

life won’t wait

and we only live once

Posted in Uncategorized | 1 Comment

what so funny about slapstick comedy?


 

” What so funny of watching silly annoying panda fighting?”

Udah nonton kung fu Panda? kata2 di atas itu diucapkan oleh teman saya sehabis nonton kung fu panda. ” denger gak sih gw ngorok, prit?”

kalo dipikir-pikir bener juga, memang kenapa ya kita segitu excitednya liat hewan gendut lompat-lompat, jatuh, nabrak, fighting, dsb? apa karena itu tidak ada di realita jadi terasa lucu?

saya sih menanggapi omongan teman saya itu dengan ” gw sih ketawa2 hehe.. buat gw sih intinya adalah menertawakan sesuatu yang bodoh dan gak perlu mikir nontonnya, macem slapstick comedy.”

sama kan seperti tergila-gilanya orang dengan OVJ atau srimulat jaman dulu? kenapa orang jatuh, didorong, ditimpa menjadi begitu lucu? humor-humor rendahan… kenapa slapstick comedy begitu dinikmati?

isn’t that makes us somekind of cruel person? i’m NOT saying i’m NOT ENJOY it lho… wondering aja, apakah melihat orang tersiksa segitu memuaskannya sehingga kita tertawa?

* tulisan ini dibuat gak bermaksud menyinggung siapapun… hanya menumpahkan pikiran2 aneh aja yang melintas… no offens for all 😉

Posted in Movies | Tagged | 2 Comments

waktu 1


detik-detik itu datang
berulang
mengejar memburu
membuai
lalu kau tak sadar
akan pekat yang merayap

dia mencemooh
"mana jejakmu?"
Posted in poems | Tagged | 1 Comment

Healing Methods


sometimes,

what you need is just a phone call

and sort of LAUGH

“Herbal  Verbal Medicine”

Posted in wisewords | Leave a comment

partitur


otakku keriting membacanya.

mangga silakan flautist2 yang mau mencoba memainkan. ini (kayaknya) ga gitu susah kok, emang saya aja masih amatiran 😉

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sekali Lagi


Masih terkait dengan postingan sebelumnya, namun dari sudut pandang berbeda. And she told it better than me ;). Saya selalu suka cara Sri bercerita. Dalam tapi ringan. Berbeda dengan tulisan saya yang hanya sekedar naratif dangkal. Menjelaskan perbedaan ketajaman pemikiran kami, but that’s what friend is for… saling melengkapi (*ngeles :P).

So, proudly presents…

“SEKALI LAGI”

author: Sri Suryani

(one of my bestfriend, a woman I adore)

________________

“Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadaq lan bathine, pepindhane wadhah lan isine..

Jeneng wadah yen tanpa isi, alah dene arane wadhah, tanpa tanja tan ana pigunane

Semono uga isi tanpa wadhah, yekti barang mokal..

Tumrap urip kang utama tertamtu ambutuhake wadhah lan isi, kang utama karo-karone.”

(Kutipan salah satu serat Dewa Ruci)

 

Yang disebut hidup adalah manunggalnya tubuh dan batin (raga dan jiwa)

ibarat wadah dan isinya..

Wadah tanpa isi, adalah sia-sia disebut wadah,

tidak akan berarti dan berguna.

Demikian juga isi tanpa wadah, adalah sesuatu yang mustahil..

Untuk hidup yang sempurna membutuhkan wadah dan isi, yang utama adalah kedua-duanya.

 

Kukira hujan telah urung turun. Seurung bias mentari yang telah enggan menerangi. ‘Sudah tak hujan lagi ya’, kukatakan pada padamu. Kau bilang, ‘Masih’. Oh? Ku amati lagi. Ternyata rona gelap membutakan titik-titik bening yang turun. Masih hujan. Aku mengangkat alis. ‘Yah, kita tak perlu terburu-buru. Apalah arti mengejar waktu tanpa tahu eksistensi ia sendiri.’kuseruput teh manis hangat, sedikit berharap dapat menetralkan atmosfir kota yang mulai dingin.

 

Kulihat kau terdiam, mengaduk-aduk jeruk hangat dengan sedotan. Aku menatapmu lama, lalu berpaling. Biar kau larut dalam lautan pemikiran, toh pada waktunya kau akan bagi lautmu. Sementara sorot lampu mobil melaju menangkap komposisis garis transparan kasat mata. Kota ini sarat memori. Hujan yang menghapus debu atau terik yang memanggang aspal. Langit pucat pasi yang menaungi. Awan putih yang terburu-buru.

 

Jalan gelap sepi namun tak seorang diri.

 

‘Eh,’ Kau menoleh padaku, membuyarkan lamunan singkat yang tak terucapkan, ‘Apa alasan kamu melakukan semua ini?’

 

Aku menarik bibir. Alasan?

 

‘Apa, ya?’ aku melirik ke arahmu, entah kenapa pandanganku terpaku pada bingkai kacamata ungu, ‘Sejujurnya ini adalah tentang mengambil kesempatan yang ada dan ajang pengujian diri.’ku cek angka yang tertera di layar ponselku. 17.58, sang waktu masih bersama kami. ‘Waktu luang yang cukup menggiurkan untuk mengambil kesempatan yang dulu tak dapat kuambil. Kali pertama aku mengikuti kegiatan macam ini, ku ingin tahu sejauh apa data-data yang telah terkumpul banyak di otakku dapat berguna. Base pengalaman dan praksis yang telah kujalani, apakah arti itu semua? Sia-siakah? Pembelajaran itu sampai mana? Ya, ini adalah titik tolak.’ aku bergumam tak jelas, lalu tersentak, ‘Eh, berlebihan! Haha, sebenarnya ini murni belajar kok. Belajar dari sesuatu yang abstrak. Bukan dari sebuah buku atau seorang guru.’

 

Kau termangu, mulutmu setegah terbuka. Pancaran matamu sepertinya tidak menyangka jawaban seperti itu. Yah, apalah arti jawaban personal seseorang. Manusia memang diciptakan tak sama. Ku balikkan saja pertanyaan itu padamu. Kau tersenyum malu-malu, ‘Aku cuma ingin ikut..’ Senyum itu muncul juga pada diriku, ‘Aah.. kamu. Tapi kamu harus tahu satu hal,’ aku memasang wajah serius. Kau menatapku lurus. Aku tertawa, ‘Semua ini membuat kita belajar dengan cara kita masing-masing. Ya, kan? Intinya semua berawal dari niat tulus dari hati. Sederhana sekali! Lalu berlanjut pada keteguhan dan keyakinan dalam diri-‘ ‘Lalu TOTALITAS!’ Kau menutup kata-kata yang mengambang di udara. Tetesan hujan berikutnya kami tertawa.

 

Angin dingin tak terlalu terasa lagi, seakan ada selimut hangat yang mendekap dari segala sisi. Aku dan kamu tenggelam dalam lautan mimpi dalam beberapa saat. Aku berucap pelan-pelan, ‘Ya, kita juga belajar melihat potensi masing-masing. Kamu yang walaupun sempat harus bolak-balik rumah sakit, namun tetap optimis dan percaya akan orang sekitarmu. Muti yang polos, pendiam namun bersemangat dan bertanggung jawab. Aldi yang kadang angot-angotan, tapi di sisi lain tetap tulus ingin berbuat sesuatu untuk tujuan bersama..’ ‘Dan kamu yang galau dan emosional!’kau memotong cepat. Aku tertawa, ‘Ya. Ya, yang jam dua belas malam datang ke tempatmu dan marah meledak-ledak. Haha, lalu kamu cuma bilang, ‘udah, tenang dulu, solat isya dulu sana?’

 

‘HAHAHA! Bukan maksudku berbagi nasib..’

 

‘Nasib adalah kesunyian masing-masing!’

 

Aku dan kau tertawa lepas. Lucu sekali. Dua anak manusia tertawa bersama di bawah naungan atap tak bernama di suatu kota di luar sana. Dengan bahasa yang tak dimengerti, malam sunyi dan asing yang bergerak slow motion. Dengan hujan sore yang awalnya hanya meninggalkan corak hitam di atas aspal kini dapat membiaskan mimpi yang sebenarnya. Ya, kami lupakan saja masa depan tak pasti yang penuh misteri. Lupakan saja segala keluh tentang materi dan delusi, kami punya yang lebih murni.

 

Jiwa. Raga. Hati. Itu sudah cukup.

 

‘Eh, serius deh. Hidup itu emang sekumpulan kecelakaan-kecelakaan acak.’kau berkata disela-sela senyummu.

 

‘Nah kan? Hahaha.. Ayuklah. Nanti wayang orangnya keburu mulai nih.’

 

Kau dan aku bangkit dari kursi. Dengan segumpal asa, dua sosok menerobos gelap dan rinai. Sekali lagi.

 

 

 

Sudut kota Solo yang tak tersentuh, 030411

(Secarik episode ditengah-tengan putaran film bernama kehidupan. Kutipan diatas di terjemahkan oleh Dr. Titis S. Pitana, ST, M. Trop Arch)

*Eh! Cengar cengirnya lama banget prit! Ceritanya udah beres tau hahah

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment