Jakarta Meledak Lagi part II : Jangan jadi Drakula! (Spekulasi, Kontroversi, dan Reaksi)

Menanggapi pengeboman yang terjadi, spekulasi pun ramai bermunculan. Tak ketinggalan pula konferensi pers Presiden RI yang menuai kontroversi.Bagaimana seluruh kalangan menyikapinya?

Meski telah lewat beberapa hari, namun perbincangan mengenai bom Marriot-Ritz Carlton masih hangat. Media masih terus berspekulasi – meski katanya tidak bermaksud mendahului penyelidikan polisi, tentang siapa pelaku pengeboman, motif, serta jaringan yang terlibat di dalamnya. Berbagai tayangan yang katanya merupakan hasil rekaman CCTV yang menunjukkan pelaku pengeboman di Marriot terus diputar di berbagai stasiun televisi. Pernyataan pihak kepolisian masih terus diburu dan dinanti ; pihak yang memilih untuk tidak banyak berkomentar dahulu dan menyangkal keabsahan rekaman CCTV yang ramai ditayangkan. Bahkan – dasar memang orang Indonesia, paranormal seperti Mama Laurent pun tak luput diajak untuk ikut berspekulasi di acara gosip layar kaca.

Contoh Pengakuan Para Pelaku Bom Sebelum Beraksi

Contoh Pengakuan Para Pelaku Bom Sebelum Beraksi

Tak habis pikir memang. Ditangkapnya dan dihukum matinya para pelaku pengeboman terdahulu ternyata memang tidak menghentikan kisruh yang terjadi di tanah air. Meski telah lama hilang, ternyata belum juga mati. Selama ini, para pelakunya disinyalir berasal dari golongan “wong cilik” – yang lagi-lagi memunculkan spekulasi bahwa salah satu motifnya adalah ketidakpuasan akibat gagalnya mencapai kesejahteraan hidup. Siapapun itu, yang jelas dan paling mengherankan adalah: MENGAPA BEGITU BODOH MENGACAUKAN NEGERI SENDIRI?

Bukankah bila stabilitas keamanan menurun akan berpengaruh terhadap banyak hal yang akhirnya ikut menurunkan stabilitas ekonomi? Bagaimana para pekerja akan berangkat bekerja – yang merupakan salah satu jihad, jika keadaan tidak aman? Bagaimana pelajar akan menuntut ilmu – yang merupakan jihad juga? Bagaimana istri2 akan pergi berbelanja untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga?

Ini spekulasi juga. Mungkin saja dalangnya memang bukan orang dari negeri Indonesia ini; melainkan bangsa asing yang tidak ingin Indonesia berkembang. Bisa pula TETANGGA sendiri. Yang membodohi orang-orang Indonesia yang gampang terbodohi oleh paham-paham yang bodoh dan akhirnya melakukan tindakan super bodoh. Lagi-lagi, ini hanya salah satu spekulasi yang timbul karena kewarganegaraan salah satu tersangka pemboman terdahulu.

Bagaimanapun, kondisi demikian nyatanya membuat presiden Susilo Bambang Yudhoyono angkat bicara. Dalam konferensi pers menanggapi tragedi pemboman Marriot II, presiden bahkan memaparkan apa yang menurutnya merupakan data-data intelijen.

Data Intelijen untuk Konsumsi Umum

Foto SBY yang Dijadikan Target Latihan Menembak

Foto SBY yang Dijadikan Target Latihan Menembak

Tak bisa dipungkiri bahwa Konferensi Pers yang dilakukan oleh SBY 17 Juli lalu di Istana Negara, menimbulkan banyak kontroversi. Dalam pidatonya, SBY menyatakan belasungkawa bagi para korban. Yang mengejutkan adalah ketika SBY menunjukkan foto-foto latihan menembak oleh para teroris dengan target foto dirinya.

“Sekali lagi saya tegaskan; ini bukan rumor, ini bukan isu, melainkan data intelijen yang saya terima beberapa saat lalu,” demikian beliau menekankan.

SBY mengatakan bahwa saat ini memang ada sejumlah pihak yang berupaya mengacaukan keamanan; diantaranya dengan rencana pendudukan KPU ketika pengumuman hasil pemilu nanti dan lainnya. Motifnya yaitu penolakan dirinya untuk menjadi presiden RI periode 2009-20014. SBY mewanti-wanti masyarakat untuk berhati-hati dan memperhatikan sekitar kalau-kalau ada yang mencurigakan karena disinyalir masih ada 8 ledakan bom lagi.

“Yang diinginkan mereka adalah bagaimanapun caranya, SBY tidak boleh dilantik,” tambah beliau.

Sikap yang demikian ditanggapi secara negatif oleh beberapa kalangan di pemerintahan, termasuk lawan politik beliau. SBY tidak seharusnya membeberkan hal tersebut di kondisi saat ini karena hanya akan menimbulkan kepanikan masal. SBY juga seharusnya tidak mempolitisir hal yang terjadi karena sesungguhnya ledakan bom Marriot II berbeda dengan ancaman yang diterimanya.

“Ancaman tersebut adalah hal wajar, seperti dulu ketika Bung Karno menjabat sebagai presiden,” demikian ungkap Megawati saat konferensi pers menanggapi pernyataan SBY dan Bom Marriot II.

Pertanyaan yang juga muncul adalah: Mengapa harus mengumumkan hal tersebut ke muka umum padahal, dengan berhasil mengambil foto dan rekaman video latihan teroris, berarti intelijen telah berhasil melacak keberadaan para teroris? Kenapa tidak langsung ditangkap?

Lain lagi dengan tanggapan salah seorang pakar terorisme dari UI yang pada waktu itu diwawancarai di Metro TV. Menurutnya, sikap SBY yang demikian merupakan wujud dari kegelisahan beliau. ” Mungkin saja SBY berhasil melacak para teroris, namun ternyata ada beberapa jaringan lainnya yang beliau tidak tahu siapa. Hal ini menyebabkan kegelisahan dan akhirnya keluar melalui pernyataan tersebut.” Meski demikian, ia juga mengakui bahwa pekerjaan intelijen memang tidak biasanya menjadi konsumsi publik.

Ayo Bersatu!

Mari Bersatu di Bawah Merah Putih

Mari Bersatu di Bawah Merah Putih

Bagaimanapun, rakyat sendiri sepertinya mulai sadar bahwa ini memang ulah pihak-pihak yang ingin mengacaukan keamanan. Reaksi yang timbul justru menghimbau seluruh warga Indonesia untuk bersatu, menentang kekerasan dan menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia tidak seburuk yang mereka kira Maka muncullah komunitas seperti Indonesia Unite.

Memang sesungguhnya obat terbaik bagi kondisi sekarang ini adalah sikap positif dari masyarakat. Sudah cukup teror yang disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Jangan lagi ditambah oleh pertikaian dan permusuhan yang tidak penting.

Jika SBY menghimbau para pengacau keamanan agar “Jangan Jadi Drakula”, mungkin himbauan yang tepat bagi masyarakat setanah air adalah : ” Jangan Ciptakan Drakula Baru!”

*hmm..mesti banyak sedia bawang putih dunk? =D*

Advertisements

About Kania

SD-SMP Al Azhar Kemang Pratama | SMAN 8 Jakarta | Arsitektur ITB
This entry was posted in Journalism and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Jakarta Meledak Lagi part II : Jangan jadi Drakula! (Spekulasi, Kontroversi, dan Reaksi)

  1. Hi, its pleasant paragraph about media print, we all be aware of
    media is a fantastic source of information.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s