Ramadhanku

Saya tidak akan mulai jika saya tidak mencoba memulai. Maka saya akan mencoba mereview Ramadhan saya dalam tulisan ini, paling tidak sekedar untuk mengingatkan apa yang telah saya lalui.

Ramadhan ini berakhir dengan cepat, setidaknya begitulah yang saya rasakan.

Di awal Ramadhan, saya berikrar dalam hati: Ramadhan kali ini harus jauh lebih baik dari Ramadhan tahun lalu. Tidak perlu diceritakan rasanya tentang bagaimana saya menghancurkan Ramadhan saya di tahun 1429 H. Satu hal yang sangat saya sesali sampai saat ini.

Namun, saya tidak menentukan target. Saya tidak mematok ibadah apa saja yang akan saya lakukan, berapa lembar bacaan Quran tiap hari, atau seberapa sering saya pergi ke masjid untuk tarawih. Saya capek dengan target. Hal itu membuat saya tidak ikhlas, beribadah hanya demi target. Saya memilih menjalani ibadah dengan gone with the flow saja. Yang saya tahu hanya saya harus menjalani ini-itu, tanpa mematok seberapa banyak yang akan saya jalani. Saya rasa, saya lebih ikhlas beribadah dengan cara ini.

Awal Ramadhan segera datang, dan ternyata saya sambut dengan tangisan di H-1 Ramadhan. Entah emosi macam apa saja yang terkalkulasi saat itu, yang jelas begitu ayah saya menelpon dan berkata “Kok nggak pulang, nduk?” dengan nada sedih, air mata saya tumpah. Biasanya, sahur pertama saya lewatkan bersama keluarga – sebuah aturan yang saya buat sendiri sebenarnya. Namun kali ini, karena acara angkatan, saya harus melewatkan tarawih dan sahur pertama bersama teman-teman seangkatan himpunan saya – sebut saja G08.

Namun, kesedihan saya terobati. Justru saya mendapat pengalaman baru. Tarawih pertama bersama teman-teman justru membuat hati saya bergetar. Entah kenapa terasa lebih khidmat. Mungkin karena berada bersama orang-orang yang setiap hari tertawa dan berbuat hal-hal konyol di kampus. Malam itu juga kami bermain bersama, buka-buka rahasia, baca komik, main flute… yah meskipun suasana tidak benar-benar kondusif, namun buat saya itu sudah lebih dari cukup.

Esoknya saya langsung pulang ke rumah. Meski tidak bisa sahur pertama, setidaknya buka puasa pertama di rumah. Walau akhirnya, cipaganti yang ngebut hingga jarak tempuh bandung-bekasi menjadi 1,5 jam tetap membuat saya harus buka puasa di jalan. Namun lagi-lagi itu cukup, karena hari-hari berikutnya saya sibuk kuliah, tidak sempat pulang ke rumah hingga 1 minggu sebelum lebaran.

Waktu pertama melihat jadwal kuliah, saya memang serasa mau pingsan. Bagaimana tidak, sudah tingkat tiga, bukannya lowong malah kuliah makin padat. Kuliah saya terbagi dua, kuliah pengantar dan studio gambar. Kalau diakumulasikan, dalam seminggu, 4 hari saya masuk dari jam 7 pagi hingga 5 sore. Absen pagi-sore membuat saya tidak bisa meninggalkan studio seenaknya. Belum lagi kuliah pilihan di hari jumat pada jam 9 hingga 3 sore minus waktu solat jumat. Total menggila deh!

Saya mulai menyusun jadwal. Khusus bulan Ramadhan, karena harus sahur, setidaknya saya harus bangun jam 4. Saya tetapkan bahwa jam 10 atau 11 malam saya sudah harus tidur, bangun lagi jam 3. Setelah sahur saya tidak tidur lagi, takut terlambat kuliah. Sebagai tambahan, dosen-dosen saya kali ini sangat disiplin. Nasib ya nasib. Waktu diantara habis sahur hingga siap-siap kuliah pun saya pakai untuk mengerjakan tugas, yang tidak sempat saya kerjakan malam hari karena sudah keburu ngantuk habis tarawih. Yah, memang sekali-sekali tidak berjalan lancar, namun secara keseluruhan metode saya ini cukup baik. Fresh rasanya mengerjakan tugas pagi-pagi, datang pagi ke studio saat udara bandung masih segar dan jalanan tidak panas. Yah bisa dibilang, saya belajar untuk lebih disiplin Ramadhan ini.

Yah, memang ada beberapa hal yang saya lewatkan. Acara-acara yang seharusnya saya liput misalnya. Kebanyakan, acara tersebut berlangsung di siang hari ketika saya harus di studio. Atau mungkin di hari-hari weekend ketika ego saya terlalu tinggi untuk mengerjakan hal lain selain tugas atau acara himpunan. Selain itu, saya juga jarang menghadiri acara malam hari. Sebisa mungkin saya menyempatkan diri tarawih di Masjid UNPAD yang lebih dekat kosan ketimbang Salman. Saya juga kecewa sebenarnya, mengapa ya harus mengadakan acara di malam-malam Ramadhan yang seharusnya digunakan untuk ibadah? Sekali dua kali saya datang acara-acara seperti itu. Sepi. Saya tidak menyalahkan orang-orang yang tidak datang karena jelas, saya juga akan lebih pilih tarawih daripada kumpul-kumpul. Yah, walaupun saya juga bukan orang yang alim…

Ada juga pengalaman tidak menyenangkan… yang kalau dipikir-pikir lucu juga sebenarnya. Pertama, saya dan teman-teman saya kualat. Waktu itu, film Cin(T)a baru keluar di blitz PVJ. Berhubung ceritanya tentang kehidupan mahasiswa arsitektur, penuh nafsu saya dan teman-teman sejurusan berniat nonton. Waktu itu, hari ke3 dan malam ke4 Ramadhan. Sesampainya di PVJ, mobil teman saya mogok. Penumpangnya perempuan semua, nggak ada yang mengerti soal mesin. Dibantu satpam, beberapa orang yang ada disana, ayah saya, serta teman-teman cowok lain, kap mobil dibuka, mesin diuprak. Tetap saja mobil teman saya ngambek. Bengkel tidak ada yang buka. Singkat cerita, mobilnya harus menginap semalam di PVJ baru besoknya bisa diderek. Untuk perbaikan, total habis 900ribu. Ayah saya cuma berkomentar, “Kamu sama temen-temen kamu sih, orang lain pada tarawih, ini malah pada nonton…” Saya cuma bisa nyengir.

Pengalaman buruk kedua yaitu waktu buka bersama panitia KENMI di d’cost. Kebetulan acaranya bentrok dengan LKO himpunan. Di tengah-tengah break buka puasa, saya, muti, sri, k’fitri, bintang, luke, dan raras izin untuk ikut buka puasa. Makan gratis…siapa coba yang mau ketinggalan. Dan saat itu pun saya memesan udang. Sialnya, bibir bawah bagian dalam saya luka tergores kulit udang. Panas rasanya. Dan tiba-tiba… bibir atas saya pun bentol. Waduh! Begitu saya telefon ayah saya, beliau panik dan menyuruh saya pergi ke apotik terdekat mencari obat. Kebetulan ibu saya punya riwayat alergi seafood yang kalau sudah parah bisa sampai sesak nafas. Duh! Dan karena kepanikan mencari apotik pun akhirnya saya dan beberapa teman saya tertinggal tarawih berjamaah di LKO. Sayang sekali..

Di bulan Ramadhan, biasanya orang berlomba memperbanyak amal. Memberi makan anak yatim, bakti sosial, hal-hal seperti itu jadi sangat lazim. Kebetulan saya sempat ikut kunjungan ke panti asuhan “Bayi Sehat” yang diadakan divisi pengmas di himpunan. Saya cukup excited, saya suka anak-anak. Namun begitu sampai sana, anak-anak yang ada buat saya terlalu hiperaktif sampai saya malah bingung sendiri.

Kalau diperhatikan, kasihan juga. Anak-anak itu beberapa diantaranya memiliki kekurangan. Mungkin karena itulah mereka ditinggalkan. Yang jelas, mereka senang sekali dengan kunjungan kami. Yang lucu, saya berkenalan dengan seorang anak perempuan TK 0 besar, berambut keriting spiral, gemuk, kulit kecoklatan, dan namanya Salsabila. Persis sama dengan sepupu saya Salsabila, bedanya sepupu saya kurus. Nah, salsabila ini sampai sekarang membuat saya berpikir. Pasalnya, sebelum saya berinteraksi dengannya, ia lari kesana kemari dan bertingkah laku cukup annoying. Tapi setelah saya ajak ngobrol, dia malah jadi pendiam. Tangannya tidak mau lepas menggenggam tangan saya. saya berpikir, jangan-jangan dia kangen keluarganya ya…

Hal yang menarik, agak menakutkan, tapi juga penuh kejadian bodoh terjadi. G-E-M-P-A! Gempa berkekuatan 7,3 sr terjadi berpusat di laut. Saat itu, sekitar setengah 4 sore, saya tengah berada di studio lantai 5. Seperti biasa, yang namanya di studio itu pasti berisik. Mengerjakan tugas sih iya, tapi sambil ngobrol, bercanda, tertawa-tawa.. ramai lah. Sesaat sebelum gempa, salah satu teman saya seperti biasa sedang berteriak-teriak di tengah studio. Saya yang sedang tertunduk menggambar, tiba-tiba merasakan meja dan kursi saya bergoyang. Sesaat semua terdiam. Sedetik kemudian baru orang-orang tersadar bahwa itu gempa. Tidak semua langsung kabur turun, beberapa bersembunyi di bawah meja – termasuk saya, atau di dekat kolom, atau bahkan di balkon – berpikir kalau bangunan ini runtuh maka akan loncat ke bangunan sebelah. Begitulah. Yang saya ingat waktu itu, bahkan ketika akhirnya saya berlari turun lewat tangga darurat, saya masih setengah tidak percaya kalau itu gempa. But, that’s such a great experience!

Nah, terkait gempa nih, sekitar 1 minggu setelahnya, KM ITB mengirim relawan ke daerah korban gempa terparah. Mencium bau berita, saya pun memutuskan meliputnya. Hitung-hitung sebagai perwakilan himpunan. Dan ternyata, ke pergian ke desa narogtog ini bisa jadi pengalaman terbaik selama Ramadhan.

Tanggal 12 September, saya, Sri, dan sekitar 20 relawan lain di bawah bendera KM ITB berangkat menuju Pangalengan. Kebetulan, desa Narogtog merupakan desa binaan ITB. Di sana, kami dibagi ke dalam beberapa tim; pelayanan kesehatan, assessment, pendekatan masyarakat. Saya ikut tim terakhir. Saya berkeliling di RW 19, dan melihat kondisi bangunan. Beberapa bangunan runtuh total sehingga penghuninya harus tidur di tenda. Saya dan sri juga sempat berinteraksi dengan warga sekitar, terutama anak-anak.

Saya mungkin akan bercerita mengenai detailnya pada tulisan berikutnya. Yang jelas di hari kedua, interaksi dengan anak-anak yang begitu dekat membuat saya menangis saat akan meninggalkan mereka. Sungguh, ini pengalaman pertama saya, merasa begitu sedih ketika akan meninggalkan sesuatu. Tim relawan KM ITB akan kembali kesana di tanggal 1 oktober nanti, tapi bisa jadi saya tidak ikut karena jadwal kuliah yang padat.

Sebagai penutup Ramadhan, ternyata hal menyedihkan terjadi. Ummi meninggal. Demikian sapaan akrab saya pada bu Anah, ibu dari tetangga saya yang sama-sama kuliah di Bandung. Betapa kagetnya ketika bangun di hari terakhir puasa, melihat ibu saya berpakaian rapi. Ketika saya tanya, ibu saya hanya menjawab, “Ummi meninggal.”

Saya tidak percaya. Demikian pula sebagian besar warga sekitar. Katanya, pagi itu sekitar pukul 7 pagi, beliau tengah menerima telepon dari saudaranya. Tiba-tiba beliau terjatuh tak sadarkan diri. Bersama dengan salah seorang tetangga, anaknya pun mencari pertolongan. Sayang ketika dibawa ke klinik terdekat, beliau sudah terlanjur tiada.

Tidak ada yang tahu penyebab kematian Ummi. Beliau orang yang baik. Meninggal di kala puasa, di hari terakhir Ramadhan. Hal ini seolah menjaga jiwa Ummi selalu bersih setelah disucikan melalui puasa. Saat perjalanan memakamkan beliau di Cirebon, polisi di jalan tiba-tiba ikut mengawal. Seolah segala sesuatunya dimudahkan oleh Yang Mahakuasa.

Kalau diingat-ingat, saya dan ibu saya masih ada hutang sama Ummi. Kami belum sempat mengajak Ummi makan nasi merah di Gasibu, Bandung. Saya juga menyesal. Terakhir sebelum Ramadhan kemarin, anak Ummi wisuda. Saya berjanji datang, namun selain karena masih jam kuliah, saya benar-benar lupa. Padahal saya seharusnya menemani Ummi yang sendirian menunggui anaknya. Yang saya bisa lakukan sekarang hanya berdoa semoga Ummi tenang di sisiNya.

Ramadhan kali ini mungkin bukan Ramadhan saat saya paling beriman. Pengalaman-pengalaman yang saya dapat di Ramadhan ini juga mudah ditemui di bulan-bulan lainnya. Tapi yang membuat saya sangat senang adalah karena saya mengalaminya di bulan ini. Saya merasa Ramadhan kali ini penuh dengan hal-hal menarik, penuh dengan pembelajaran untuk saya. Semoga usia saya masih sampai untuk Ramadhan selanjutnya dan saya bisa belajar lebih banyak hal lagi.

Sebagai penutup,
Taqabalallahu Minna wa Minkum
Minal Aidin wal Faidzin
Eid Mubarak

Advertisements

About Kania

SD-SMP Al Azhar Kemang Pratama | SMAN 8 Jakarta | Arsitektur ITB
This entry was posted in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s