Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Berlindung

Layar kaca dan media cetak akhir-akhir ini ramai oleh berita tentang bencana gempa. Di Tasikmalaya, Padang, Pangalengan, Sukabumi, Banten, Jambi, Papua, dan daerah-daerah lainnya di nusantara. Ribuan orang telah melayang jiwanya akibat bencana-bencana tersebut. Sungguh tragis.

Ketika satu lempengan bumi bertumbukan dengan lempengan lainnya, maka terciptalah getaran gempa yang terdirdari getaran sekunder dan primer. Getaran primer akan dirasakan merata oleh daerah-daerah dengan radius tertentu dari pusat gempa, sementara getaran primer merupakan akumulatif dari seluruh getaran dan memusat pada satu daerah saja. Dalam ilmu geofisika, proses ini – selang waktu antar kedua getaran, terjadi hanya dalam hitungan detik. Dapat ditebak bahwa getaran sekunder lah yang sesungguhnya merusak.

Celakanya, tersangka utama penyebab jatuhnya banyak korban bukanlah getaran itu sendiri! Mengutip ucapan salah seorang dosen program studi arsitektur, “ Gempa tidak berbahaya, namun yang berbahaya adalah hasil-hasil karya manusia.” Maksudnya disini adalah bangunan ataupun hasil karya manusia pada alam yang akhirnya menyebabkan imbas yang buruk pula bagi manusia.

Kebanyakan korban bencana gempa meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan ; kolom, balok, atap, tangga, dan elemen-elemen bangunan lainnya. Sebagian lagi meninggal akibat tanah longsor yang disebabkan kurangnya daya dukung tanah terhadap getaran gempa.

Yang akan saya soroti adalah bagaimana bangunan sangat membahayakan bagi manusia ketika terjadi gempa. Hal ini dikuatkan oleh fakta bagaimana hotel Ambacang di Padang, Sumatra Barat, yang runtuh akibat gempa dan mengubur hidup-hidup ratusan orang di dalamnya. Fakta lainnya adalah sebuah bangunan tempat les yang juga runtuh akibat gempa dan mengubur lebih dari limapuluh siswanya yang saat itu tengah belajar.

Bangunan = tempat berlindung?

Dalam ilmu sosial dan ekonomi, papan termasuk dalam tiga kebutuhan pokok manusia selain sandang dan pangan. Tiga kebutuhan pokok ini merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi demi keberlangsungan hidup manusia.

Kata “papan” yang biasa diartikan sebagai rumah pun terus mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Ketika zaman prasejarah rumah diartikan sebagai tempat berlindung yang berada di bukit-bukit, di atas pohon, atau di dalam gua. Pengertian rumah kemudian bergeser menjadi tenda-tenda yang terbuat dari kulit dengan rangka kayu di dalamnya seperti suku Indian, atau susunan kayu yang dibentuk melingkar dengan atap-atap daun atau ilalang seperti dalam rumah bangsa viking, atau rumah dari tumpukan-tumpukan es seperti bangsa eskimo.

Mengapa rumah atau tempat tinggal menjadi begitu penting? Dalam sebuah makalah yang ditulis oleh M. Murray, sebuah tempat tinggal memiliki beberapa aspek diantaranya kenyamanan, memberikan rasa aman, kasih sayang keluarga, keinginan berkreasi, dan sebagainya. Yang digarisbawahi adalah rasa aman yang seharusnya diberikan oleh rumah.

Sejak zaman prasejarah, manusia telah menggunakan tempat tinggal sebagai tempat perlindungan; berlindung dari ganasnya cuaca, berlindung dari hewan-hewan buas, dan berlindung dari peperangan dengan suku-suku lain. Rasanya aspek perlindungan ini tidak dapat ditinggalkan hingga sekarang, ketika manusia masih menggunakan tempat tinggal sebagai tempat untuk beristirahat, berlindung dari hujan ataupun panas terik, dari peperangan yang berkecamuk di jalur Gaza, dari demonstrasi di jalan-jalan protokol, maupun dari kejaran para wartawan, polisi, ataupun penagih hutang. Jadi jelas, mulai dari rakyat biasa hingga pejabat dan selebritis pun setuju bahwa tempat perlindungan menduduki nomor urut satu dalam fungsi tempat tinggal.

Kata “rumah” atau “tempat tinggal” saat ini juga tidak relevan bila diartikan sebagai bangunan persegi atau persegi panjang, terdiri dari satu, dua atau tiga lantai, berdinding bata atau kayu, memiliki halaman, dan dikelilingi dengan taman. Menjawab permasalahan kota yang semakin berkembang dengan bertambahnya jumlah penduduk yang akhirnya menimbulkan kenaikan jumlah kebutuhan lahan untuk tempat tinggal, banyak rumah akhirnya dibuat secara bertumpuk dan disebut sebagai rumah susun, atau flat, atau apartemen, mansion, dan sebagainya. Bangunan-bangunan ini pun tidak lagi berfungsi hanya sebagai tempat tinggal namun juga mewadahi aktifitas manusia lainnya.

Aktifitas manusia juga tidak lagi terbagi menjadi aktifitas indoor dan outdoor. Banyak aktifitas outdoor yang kini diusahakan agar dapat dilakukan di dalam ruangan. Karenanya muncullah bangunan-bangunan yang mewadahi berbagai aktifitas manusia. Gaya hidup dan kebutuhan untuk mencapai kemakmuran mendorong manusia menghabiskan sebagian besar waktunya di bangunan-bangunan tempat aktifitas, sehingga bangunan-bangunan ini pun mendapat tempat yang cukup signifikan dalam kelangsungan hidup manusia. Maka, aspek perlindungan juga menjadi aspek yang tak dapat dipisahkan dari keberadaan bangunan-bangunan tempat aktifitas ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah bangunan-bangunan ini memenuhi kriteria memberikan perlindungan bagi manusia di dalamnya?

Kembali kepada fakta di awal, bangunan hotel Ambacang yang runtuh, bangunan bimbingan belajar, ataupun rumah-rumah penduduk menjadi penyebab banyaknya jumlah korban. Sebuah ironi memang. Ketika selama berabad-abad bangunan – baik rumah ataupun bangunan lainnya, dipercaya sebagai tempat berlindung paling aman, namun ketika bumi diguncangkan, bangunan menjadi tempat paling berbahaya bagi manusia.

Pepatah berbunyi “rumahku istanaku, rumahku surgaku”. Apakah ini berarti rumah adalah suatu tempat yang nyaman sehingga diibaratkan seperti istana bahkan surga, atau rumah adalah tempat aku “pergi ke surga”?

Apa Kata Arsitektur?

Seorang filsuf Yunani bernama Vitruvius berkata, ada tiga aspek utama dalam desain: Firmitas, Venustas, Utilitas. Firmitas berarti kekokohan, kekuatan. Venustas adalah keindahan, sementara utilitas berarti kegunaan atau fungsi. Sebuah desain yang baik adalah desain yang teruji kekokohannya, jelas kegunaan atau fungsinya, dan memiliki unsur-unsur keindahan di dalamnya yang dapat terlihat pada desain keseluruhan maupun detail-detail di dalamnya.

Sementara itu, ilmu arsitektur telah sekian lama dikenal sebagai ilmu rancang bangun; simpelnya ilmu yang mempelajari bagaimana sebuah bangunan dibuat agar memenuhi kaidah-kaidah yang memenuhi kebutuhan manusia.

Pada dasarnya, arsitektur adalah ilmu perpaduan sains dan seni merancang bangunan dan struktur fisik lainnya (wikipedia.com). Kata arsitektur berasal dari bahasa Latin “architectura” yang berasal dari kata arkhitektonike dari bahasa yunani, yang memiliki arti “ master builder” atau “master carpenter”.

Definisi lain juga mengatakan bahwa arsitektur adalah ilmu menggubah ruang. Ruang merupakan elemen dasar tempat terjadinya aktifitas manusia. Pengertian ini semakin membuat kata “arsitektur” memiliki cakupan luas; tidak hanya melulu mengurusi rumah atau bangunan namun juga ruang sebagai aspek kehidupan manusia.

Filsafat dari Vitruvius menjadi landasan utama dalam arsitektur. Suatu desain arsitektural haruslah memenuhi tiga prinsip firmitas, venustas, dan utilitas. Jika tidak, dapat dikatakan bahwa arsitektur yang tercipta adalah arsitektur yang buruk, tidak memenuhi standar.

Kembali pada permasalahan bangunan yang runtuh akibat gempa. Jika dibandingkan dengan prinsip arsitektur yang dikemukakan vitruvius, jelas bahwa aspek firmitas atau kekokohan tidak terpenuhi pada bangunan-bangunan tersebut. Jika demikian, dimana permasalahan utamanya? Untuk bangunan publik seperti hotel ataupun kantor jika terjadi kerusakan atau runtuh mungkin jelas dapat ditelurusi apakah kesalahan terletak di pihak arsitek sebagai perencana ataupun pengerjaan yang kurang baik. Namun bagaimana dengan bangunan-bangunan seperti rumah tinggal sederhana milik warga? Bukankah tidak ada arsitek yang terlibat dalam proses pembuatan rumah mereka?

Bangunan yang tidak lagi dapat memberikan perlindungan sebenarnya merupakan bukti bahwa ilmu arsitektur tidak dipahami dan diterapkan dengan baik. Ilmu itu sendiri seringkali ditafsirkan salah. Arsitektur saat ini terkesan hanya melingkupi bangunan-bangunan publik, pencakar langit, bersifat komersial, dan hanya menyentuh kalangan atas. Bangunan-bangunan privat dan berskala kecil seperti rumah tinggal warga kebanyakan seolah menjadi pengecualian dalam penerapan ilmu arsitektur.

Padahal, sejak berabad-abad lalu, arsitektur telah dipakai oleh berbagai bangsa dan menjadi salah satu elemen kearifan lokal. Contoh paling dekat dan sederhana adalah rumah bagonjong khas masyarakat Sumatra Barat. Dalam reportase gempa yang disiarkan di salah satu stasiun televisi swasta, diperlihatkan bagaimana rumah-rumah tersebut tetap berdiri tegak. Rumah bagonjong tersusun dari struktur kayu dan menggunakan pasak pada sambungan-sambungannya. Dindingnya pun merupakan light weight material – material ringan, yang meminimalisir beban pada struktur-strukturnya.

Ketika terjadi gempa, rumah bagonjong dapat bergoyang dengan hebat, namun fleksibilitasnya ini justru membuat ia tetap berdiri. Berbeda dengan rumah-rumah lain yang terbuat dari material rigid seperti batu bata yang tidak dapat merespon getaran sehingga mengakibatkan patahan pada struktur atau pendukungnya.

Hal-hal seperti ini tentunya didapat masyarakat Sumatra Barat zaman lampau melalui pengamatan terhadap alam. Pendekatan arsitektur pun dipakai agar tercipta bangunan yang kokoh hingga menjadi tempat perlindungan yang aman dan nyaman bagi masyakat setempat.

Ini menjadi aspek yang tidak disadari oleh sebagian besar masyarakat saat ini. Kebanyakan, konstruksi bangunan hanya didasarkan pada bagaimana agar tampilan bangunan terlihat menarik, atau cukup layak untuk dihuni. Pendekatan tiga prinsip arsitektur tidak digunakan bahkan mungkin tidak diketahui keberadaannya oleh sebagian besar masyarakat.

Melalui hasil observasi langsung ke daerah Pangalengan, salah satu daerah yang menderita kerusakan cukup parah akibat gempa Jawa Barat, terlihat jelas bahwa prinsip struktur yang baik tidak diterapkan dalam bangunan rumah tinggal warga. Sebagai contoh, tidak terdapatnya kolom-kolom struktural yang diperkuat dengan beton dan tulangan besi.

Apa yang harus dilakukan?

Indonesia terletak di pertemuan tiga lempeng bumi. Dapat dipastikan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang sangat rawan gempa, ketika terjadi tumbukan antar lempeng-lempeng tersebut. Bagaimana seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia merespon kondisi alam menjadi perhatian penting yang semakin disadari saat ini.

Dari hasil pendataan terhadap masyarakat daerah Pangalengan, didapat pula keterangan bahwa sebagian besar masyarakat tidak mengetahui bagaimana membuat bangunan yang aman dan memenuhi kaidah-kaidah arsitektur terutama aspek firmitas. Ditambah lagi dengan kondisi alam Indonesia yang rawan terhadap gempa. Masalahnya, bagaimana mau membuat bangunan tanggap gempa apabila membuat bangunan yang memenuhi standar pun belum bisa?

Ini menjadi permasalahan arsitektur, bagaimana seharusnya arsitektur dapat diterapkan oleh masyarakat. Bagaimana arsitektur seharusnya memberikan perlindungan terhadap kehidupan. Bagaimana arsitektur dapat dilakukan sesuai dengan kaidah-kaidahnya.

Ada berbagai cara dalam merespon permasalahan ini. Kembali pada kearifan lokal dapat menjadi salah satu kuncinya. Namun bukan berarti seluruh bangunan harus berkonstruksi kayu atau bambu. Belajar dari bangsa Jepang, bangunan berkonstruksi beton dapat digunakan sebagai bangunan tahan gempa, namun tentunya dengan perhitungan tertentu dan menguras biaya yang tidak sedikit.

Selain itu, sudah saatnya masyarakat mendapat pengajaran tentang arsitektur yang baik. Sudah saatnya masyarakat dibekali pengetahuan tentang membuat bangunan yang merespon kondisi setempat, dengan teknik-teknik konstruksi yang dapat dilakukan sendiri dan material lokal.

Sejumlah pihak yang berasal dari berbagai disiplin ilmu telah mencoba mengembangkan model rumah tahan gempa. Pihak yang terlibat diantaranya berasal dari dosen arsitektur dan teknik sipil ITB, dibantu oleh mahasiswa. Rumah yang dikembangkan dapat dibangun hanya dalam waktu satu hari. Demikian pula dengan arsitek Yu Sing yang mencoba mengembangkan model rumah tahan gempa yang terbuat dari bambu.

Bisa jadi, pengetahuan mengenai arsitektur maupun struktur bangunan telah diajarkan sejak dini seperti di Jepang, sehingga masyarakat dapat lebih aware dengan kondisi alam dan mengerti bagaimana seharusnya bangunan dibuat. Image arsitektur yang selama ini dekat dengan golongan high class harus dibuat merakyat dan dapat diterapkan masyarakat.

Tidak hanya terbatas pada pemahaman mengenai arsitektur, namun kesadaran untuk berarsitektur dengan baik juga harus dibangun. Keruntuhan hotel Ambacang seharusnya dapat menjadi pelajaran yang sangat berharga. Hotel tersebut sejak awal memang tidak didesain sebagai bangunan bertingkat enam, maka strukturnya pun tidak memenuhi standar. Kesadaran mengenai aspek keamanan seharusnya dapat mengalahkan prinsip ekonomi yang berujung pada membahayakan keselamatan publik.

Arsitektur sesungguhnya bukanlah ilmu yang eksklusif. Arsitektur yang baik seharusnya dapat diterapkan di berbagai aspek kehidupan, oleh berbagai elemen masyarakat, sesuai dengan filsafat arsitektur yang merupakan ilmu menggubah ruang. Sehingga akhirnya bangunan kembali dapat memenuhi fungsinya sebagai tempat berlindung.

Rumahku istanaku, rumahku surgaku.

Advertisements

About Kania

SD-SMP Al Azhar Kemang Pratama | SMAN 8 Jakarta | Arsitektur ITB
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to Ketika Rumah Tak Lagi Menjadi Tempat Berlindung

  1. ulfi says:

    memang, bagaimana rancangan rumah ramah gempa belum begitu menjadi perhatian. Ini beralasan karena faktor ekonomi dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s