Pagi… (dalam beberapa perspektif)

Coba buka pintu dan jendelamu

Rasakan belaian embun

Semburat merah di ufuk timur

Dengarkan nyanyian pagi

Pagi itu menyenangkan. Pagi itu penanda munculnya hari. Pagi itu harapan baru.

Pagi itu segar. Pagi itu damai. Kebangkitan dari alam yang sejenak tertidur.

Pagi itu saat burung-burung gereja mulai berkicau. Mengajak burung tekukur di kandang untuk ikut bernyanyi. Burung gereja lalu terbang dan hinggap di dahan pepaya, teras-teras rumah, dan membangunkan sepasang kupu-kupu putih. Kupu-kupu putih menggeliatkan sayap basahnya, bersiap kembali berkejaran di antara dahan cemara dan kembang soka di halaman.

Pagi itu saat supir angkot mulai menekan gasnya dalam-dalam. Membawa penjual sayur dan bakulnya dari pasar induk Ciroyom menuju Simpang Dago. Mulai berhitung, berapa banyak rupiah yang akan dibawanya pulang hari ini. Apakah sebaiknya dia ngetem menunggu penumpang di perempatan Hussain dan membiarkan si penjual sayur menggerutu takut lapaknya diserobot orang lain? Namun penjual sayur ini bukan orang sembarangan. Ia pahlawan bersenjata wortel dan buncis bagi ibu-ibu yang akan memasak sop untuk makan keluarganya atau mahasiswa yang memasak demi penghematan uang bulanan. Puluhan perut terselamatkan demikian pula sel-sel otak yang butuh ransum pagi agar aktif bekerja seharian.

Pagi itu saat abah menyalakan mesin motornya, bersiap menuju SDN Cigadung tempatnya mengajar. Sejuta harapan semoga hari ini murid-muridnya mampu menyelesaikan ulangan dengan baik. Ah, abah ingat pagi ini giliran si Asep dan Dadang yang piket. Bocah-bocah itu pastilah kini tengah bersemangat menyapu kelas, menghapus papan tulis,mengambil spidol di ruang guru, lalu bak TNI menunggunya dengan sikap sempurna di pintu kelas. Abah tersenyum simpul mengingat betapa Dadang akan mencium tangannya dengan takzim sementara Asep cengar-cengir memamerkan gigi serinya yang patah akibat jatuh dari pohon. Setelah menyeruput kopi dan sarapan seadanya, penuh semangat Abah melaju bersama motor tua yang bunyi knalpotnya membangunkan para mahasiswa di kos-kosan sebelah rumah.

Pagi itu duka. Pagi itu bagai cambuk, penanda bahwa nasib buruk akan tiba. Pagi itu penyesalan bagi mahasiswa tugas akhir yang tertidur semalaman, meninggalkan kertas yang masih suci tanpa coretan, dan melupakan notebook yang akhirnya mati kehabisan baterai. Menyisakan kepanikan akibat karya yang belum rampung, ditambah kebutuhan menghadiri kuliah pagi yang syarat presensinya minimal 80%. Tangan spontan mengambil handphone, update status twitter dengan kata-kata keluh kesah, merangkai teks tentang kemungkinan titip absen untuk kuliah pagi ini lalu mengirimnya dalam format blackberry messenger dan sms. Ia tidak bisa membayangkan hardikan apa yang akan diterimanya dari pembimbing tugas akhir jika pukul 11 nanti ia menyodorkan kertas asistensi yang desainnya masih sama dengan kemarin.

Pagi itu saat memandang barisan mega di langit, membiarkan dinginnya embun membekukan jemari kaki, menatap mentari yang perlahan muncul di sela-sela trembesi dan pinus. Membiarkan segarnya udara bumi parahyangan memenuhi paru-paru, lalu terbatuk-batuk kecil karena dinginnya merangsang batang tenggorokan menyempit. Retsleting jaket dinaikkan.

Usai melipat sajadah dan meletakkannya begitu saja di pinggir kasur, membuka tirai, jendela, dan pintu lebar-lebar. Mendengarkan deru mesin cuci ibu kos di lantai bawah, weker kamar sebelah yang terus bernyanyi, dan sayup klakson mobil di kejauhan. Pertanda Dago mulai terjaga.  Tersenyum, kemudian duduk di ambang pintu. Terdiam sejenak, mensyukuri masih diberi satu hari tambahan, masih ada kesempatan membuka mata dan menikmati pagi.

Sejenak berpikir tentang deretan pekerjaan yang harus diselesaikan…

Hei, nantilah dulu… biarkan pagi mendapatkan haknya untuk diapresiasi sejenak.

Advertisements

About Kania

SD-SMP Al Azhar Kemang Pratama | SMAN 8 Jakarta | Arsitektur ITB
This entry was posted in Daily Life. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s