waktu 1


detik-detik itu datang
berulang
mengejar memburu
membuai
lalu kau tak sadar
akan pekat yang merayap

dia mencemooh
"mana jejakmu?"
Posted in poems | Tagged | 1 Comment

Healing Methods


sometimes,

what you need is just a phone call

and sort of LAUGH

“Herbal  Verbal Medicine”

Posted in wisewords | Leave a comment

Kayu pada Api


Bara ini aku titipkan ya

Agar merahmu jadi jingga

Hati-hati jiwamu terbakar

Lalu aku jadi abu

Posted in poems | Leave a comment

Angin


Barangkali

Aku hanya ingin menari di atas angin

Jangan sangka aku hanyut

Kau saja yang kecut kalau aku terbang

Posted in poems | Leave a comment

partitur


otakku keriting membacanya.

mangga silakan flautist2 yang mau mencoba memainkan. ini (kayaknya) ga gitu susah kok, emang saya aja masih amatiran 😉

Posted in Uncategorized | Leave a comment

kerjaan kantor


kerjaan hari ini

Bagian Radiologi / Kedokteran Nuklir / Cardiovascular RS Hasan Sadikin Bandung

Konsultan: PT. Pandu Persada

tugas gw:

1. ngubah si grid2 kolom (yg berarti ngubah denah 6 lantai itu plus basement.. oh sumpah I hate basement. dari dulu selalu merusak hidup deh.. >_<)

2. nyari2 info soal cardiology vascular

terimakasih putra dan spacemed nya serta tumpukan buku2 perpus ini..

3. ngelayout ruang cardiac radiology

ini kayaknya baru besok deh atau ntar malem ya…

penampakan si ocon seharian ini…

berhubung ini memori laptop udah penuh, butuh banget mindahin data ke hd external. dan harddisk BARU ini (yang didapet gara2 tuker harddisk rusak -padahal karena kesalahan sendiri, tapi masih garansi ;p) belum dipartisi. yah mesti nunggu lah.

aduh ini ga jelas deh nulis apaan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Sekali Lagi


Masih terkait dengan postingan sebelumnya, namun dari sudut pandang berbeda. And she told it better than me ;). Saya selalu suka cara Sri bercerita. Dalam tapi ringan. Berbeda dengan tulisan saya yang hanya sekedar naratif dangkal. Menjelaskan perbedaan ketajaman pemikiran kami, but that’s what friend is for… saling melengkapi (*ngeles :P).

So, proudly presents…

“SEKALI LAGI”

author: Sri Suryani

(one of my bestfriend, a woman I adore)

________________

“Kang ingaran urip mono mung jumbuhing badan wadaq lan bathine, pepindhane wadhah lan isine..

Jeneng wadah yen tanpa isi, alah dene arane wadhah, tanpa tanja tan ana pigunane

Semono uga isi tanpa wadhah, yekti barang mokal..

Tumrap urip kang utama tertamtu ambutuhake wadhah lan isi, kang utama karo-karone.”

(Kutipan salah satu serat Dewa Ruci)

 

Yang disebut hidup adalah manunggalnya tubuh dan batin (raga dan jiwa)

ibarat wadah dan isinya..

Wadah tanpa isi, adalah sia-sia disebut wadah,

tidak akan berarti dan berguna.

Demikian juga isi tanpa wadah, adalah sesuatu yang mustahil..

Untuk hidup yang sempurna membutuhkan wadah dan isi, yang utama adalah kedua-duanya.

 

Kukira hujan telah urung turun. Seurung bias mentari yang telah enggan menerangi. ‘Sudah tak hujan lagi ya’, kukatakan pada padamu. Kau bilang, ‘Masih’. Oh? Ku amati lagi. Ternyata rona gelap membutakan titik-titik bening yang turun. Masih hujan. Aku mengangkat alis. ‘Yah, kita tak perlu terburu-buru. Apalah arti mengejar waktu tanpa tahu eksistensi ia sendiri.’kuseruput teh manis hangat, sedikit berharap dapat menetralkan atmosfir kota yang mulai dingin.

 

Kulihat kau terdiam, mengaduk-aduk jeruk hangat dengan sedotan. Aku menatapmu lama, lalu berpaling. Biar kau larut dalam lautan pemikiran, toh pada waktunya kau akan bagi lautmu. Sementara sorot lampu mobil melaju menangkap komposisis garis transparan kasat mata. Kota ini sarat memori. Hujan yang menghapus debu atau terik yang memanggang aspal. Langit pucat pasi yang menaungi. Awan putih yang terburu-buru.

 

Jalan gelap sepi namun tak seorang diri.

 

‘Eh,’ Kau menoleh padaku, membuyarkan lamunan singkat yang tak terucapkan, ‘Apa alasan kamu melakukan semua ini?’

 

Aku menarik bibir. Alasan?

 

‘Apa, ya?’ aku melirik ke arahmu, entah kenapa pandanganku terpaku pada bingkai kacamata ungu, ‘Sejujurnya ini adalah tentang mengambil kesempatan yang ada dan ajang pengujian diri.’ku cek angka yang tertera di layar ponselku. 17.58, sang waktu masih bersama kami. ‘Waktu luang yang cukup menggiurkan untuk mengambil kesempatan yang dulu tak dapat kuambil. Kali pertama aku mengikuti kegiatan macam ini, ku ingin tahu sejauh apa data-data yang telah terkumpul banyak di otakku dapat berguna. Base pengalaman dan praksis yang telah kujalani, apakah arti itu semua? Sia-siakah? Pembelajaran itu sampai mana? Ya, ini adalah titik tolak.’ aku bergumam tak jelas, lalu tersentak, ‘Eh, berlebihan! Haha, sebenarnya ini murni belajar kok. Belajar dari sesuatu yang abstrak. Bukan dari sebuah buku atau seorang guru.’

 

Kau termangu, mulutmu setegah terbuka. Pancaran matamu sepertinya tidak menyangka jawaban seperti itu. Yah, apalah arti jawaban personal seseorang. Manusia memang diciptakan tak sama. Ku balikkan saja pertanyaan itu padamu. Kau tersenyum malu-malu, ‘Aku cuma ingin ikut..’ Senyum itu muncul juga pada diriku, ‘Aah.. kamu. Tapi kamu harus tahu satu hal,’ aku memasang wajah serius. Kau menatapku lurus. Aku tertawa, ‘Semua ini membuat kita belajar dengan cara kita masing-masing. Ya, kan? Intinya semua berawal dari niat tulus dari hati. Sederhana sekali! Lalu berlanjut pada keteguhan dan keyakinan dalam diri-‘ ‘Lalu TOTALITAS!’ Kau menutup kata-kata yang mengambang di udara. Tetesan hujan berikutnya kami tertawa.

 

Angin dingin tak terlalu terasa lagi, seakan ada selimut hangat yang mendekap dari segala sisi. Aku dan kamu tenggelam dalam lautan mimpi dalam beberapa saat. Aku berucap pelan-pelan, ‘Ya, kita juga belajar melihat potensi masing-masing. Kamu yang walaupun sempat harus bolak-balik rumah sakit, namun tetap optimis dan percaya akan orang sekitarmu. Muti yang polos, pendiam namun bersemangat dan bertanggung jawab. Aldi yang kadang angot-angotan, tapi di sisi lain tetap tulus ingin berbuat sesuatu untuk tujuan bersama..’ ‘Dan kamu yang galau dan emosional!’kau memotong cepat. Aku tertawa, ‘Ya. Ya, yang jam dua belas malam datang ke tempatmu dan marah meledak-ledak. Haha, lalu kamu cuma bilang, ‘udah, tenang dulu, solat isya dulu sana?’

 

‘HAHAHA! Bukan maksudku berbagi nasib..’

 

‘Nasib adalah kesunyian masing-masing!’

 

Aku dan kau tertawa lepas. Lucu sekali. Dua anak manusia tertawa bersama di bawah naungan atap tak bernama di suatu kota di luar sana. Dengan bahasa yang tak dimengerti, malam sunyi dan asing yang bergerak slow motion. Dengan hujan sore yang awalnya hanya meninggalkan corak hitam di atas aspal kini dapat membiaskan mimpi yang sebenarnya. Ya, kami lupakan saja masa depan tak pasti yang penuh misteri. Lupakan saja segala keluh tentang materi dan delusi, kami punya yang lebih murni.

 

Jiwa. Raga. Hati. Itu sudah cukup.

 

‘Eh, serius deh. Hidup itu emang sekumpulan kecelakaan-kecelakaan acak.’kau berkata disela-sela senyummu.

 

‘Nah kan? Hahaha.. Ayuklah. Nanti wayang orangnya keburu mulai nih.’

 

Kau dan aku bangkit dari kursi. Dengan segumpal asa, dua sosok menerobos gelap dan rinai. Sekali lagi.

 

 

 

Sudut kota Solo yang tak tersentuh, 030411

(Secarik episode ditengah-tengan putaran film bernama kehidupan. Kutipan diatas di terjemahkan oleh Dr. Titis S. Pitana, ST, M. Trop Arch)

*Eh! Cengar cengirnya lama banget prit! Ceritanya udah beres tau hahah

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment